wikimediaImages dari Pixabay

Masih mengenai menulis naskah komedi, kelucuan tidak seratus persen tergantung pada joke yang lucu. Tapi juga pada pemainnya. Pada artikel terdahulu saya pernah cerita, bagaimana joke yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan karena pemainnya yang tidak disiplin. Atau, tidak mampu membawakannya.

Namun, bukan hanya itu. Yang juga menentukan keberhasilan naskah memancing tawa adalah cara memilih pemainnya. Karena itu, penulis naskah harus mengetahui kekuatan artis atau pemain yang mendukung program komedinya. Mengapa begitu?

Dengan mengetahui potensi dan kapasitas pemain, kita jadi mengetahui bagaimana seharusnya kita menulis. Pasalnya, ada tugas berat yang menggayuti penulis, yaitu membuat lucu.

Penulis harus membangun kelucuan pada setiap segmen. Biasanya setiap ending merupakan punch dari keseluruhan cerita dalam segmen tersebut. Biasanya pola kelucuan di sebuah naskah terjadi di awal, kemudian menurun di tengah, dan makin habis di akhir.

Karena itu, menurut pengalaman saya, memunculkan pemain juga harus dengan pertimbangan bisa mendongkrak share atau jumlah penonton. Umumnya, stasiun teve bisa melihat peningkatan share dari menit ke menit. Kemunculan pemain yang tidak bisa membuat situasi menjadi lebih heboh tidak akan berdampak pada share. Karena itu, seorang penulis naskah lawak, apalagi lawak yang scripted harus jeli memilih pemain. Dia harus memiliki peta kekuatan pemain. Artinya, penulis harus memanajemeni kemunculan pemain agar sepanjang pertunjukan bisa terus ger-geran.

Yang harus dipahami, kelucuan sejatinya terjadi karena adanya interaksi antarpemain. Yang juga harus dipahami, karakter pemain itu berbeda-beda. Kita harus pandai memilih pemain sesuai dengan situasi yang akan dibuat. Untuk monolog ketika opening, hanya bisa dimainkan oleh pemain tertentu. Misalnya dalam program Ngelenong Nyok dulu, saya tidak mungkin menempatkan Yulia Rahman dan Ferry Maryadi untuk opening.

Saya lebih baik menempatkan Bedu, Adul, atau Irfan Hakim. Pasalnya, dua kawan kita yang pertama itu, tidak bisa mengeksplor kemampuannya seorang diri. Dengan kata lain, improvisasi, gestur, dan ekspresinya baru keluar ketika berinteraksi dengan orang lain. Seorang kreatif/penulis lawak harus memahami benar kondisi-kondisi seperti ini.

Tapi, untuk naskah yang berbentuk treatment, penulis/kreatif harus terus standby .Bila dilihat permainan sudah tidak berkembang, dia bisa memasukkan pemain yang kuat untuk menghidupkan suasana. Tentu saja ini dilakukan berkoordinasi dengan FD atau floor director agar bisa berkoordinasi dengan sutradara yang bisa mengarahkan kamera agar bersiap menangkap kemunculan pemain yang diajukan.

Jadi, lucunya joke yang ditulis bergantung pada kepiawaian penulis dalam membuat joke dan memilih pemain untuk melontarkan joke tersebut. Segitu dulu ya Bro. Salam.

Baca juga:

Penulis Skrip Komedi Kudu Jeli Memilih Pemain
Tagged on:                     

7 thoughts on “Penulis Skrip Komedi Kudu Jeli Memilih Pemain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.