Penyebaran virus korona semakin mengkhawatirkan, jumlah orang yang terjangkiti virus dari Wuhan, Tiongkok, ini terus meningkat. Yang menjadi persoalan saya bukanlah virusnya melainkan penulisannya. Corona atau korona.

Betul, bila memakai pedoman pengindonesiaan kata asing, mestinya yang kita pakai adalah korona. Toh, kita juga bisa beranalogi ke kata yang sudah ada sebelumnya. Cable diindonesiakan menjadi kabel, computer menjadi komputer, coin menjadi koin, compatible menjadi kompatibel, corporate menjadi korporat.

Bersaingnya bentuk corona dan korona, bahkan mayoritas memakai corona, karena kemunculan bentuk corona terlebih dahulu ketimbang korona. Alhasil, masyarakat yang sudah terbiasa dengan bentuk corona menjadi agak susah untuk “pindah ke lain hati’. Kasus ini hampir sama dengan busway dan Transjakarta. Orang lebih akrab dengan kata busway, bahkan ketika jalan khusus bus Transjakarta itu baru dibangun, daripada bus yang akan melewatinya.

Ujung-ujungnya orang menyamakan busway dengan Transjakarta. Karena itu, kita acap mendengar ucapan menggelikan: “naik busway”. Toh, itulah yang terjadi. Hingga kini masih banyak yang memperlakukan busway sebagai kata ganti dari Transjakarta. Begitu juga dengan korona, lambat laun orang juga akan semakin ngeh bahwa yang benar penulisannya adalah korona bukan corona.

Perihal persaingan korona dan corona, saya teringat blocking theory. Teori ini bilang, bentuk yang pertama mengeblok bentuk yang datang kemudian, meskipun bentuk itu tidak benar. Contoh yang paling gampang adalah langganan dan pelanggan. Saat masih banyak yang memakai kata langganan bermakna sebagai orang yang melanggan atau pelanggan.

Kedua kata ini sama-sama dipakai oleh orang hingga kini. Tidak ada yang salah. Kemunculan pelanggan terhalangi (terblok) oleh langganan. Kini orang terpelajar sudah semakin tahu bahwa bentuk yang benar adalah pelanggan. Hanya kamus melabeli langganan sebagai bahasa percakapan.

Fenomena kebahasaan seperti ini sudah biasa. Pada akhirnya masyarakat yang menentukan. Kalau mau dianggap terpelajar, tentunya memakai yang kata yang secara morfologis benar. Bukankah begitu. Salam.

Baca juga:

Penyebaran Corona yang Mestinya Korona
Tagged on:                         
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.