peter handke
Peter Handke / Wikimedia

Peter Handke, penulis yang memenangi hadiah nobel kesusastraan 2019. Mengapa penulis Austria ini bisa mendapat nobel? Tentu saja ini bukan sebuah kebetulan. Ada proses panjang yang telah dilalui Handke.

Peter Handke adalah penulis naskah lakon avant-garde Austria, novelis, penyair, dan penulis esai. Selain itu, dia adalah salah satu penulis berbahasa Jerman paling orisinal di paruh kedua abad ke-20.

Handke lahir di sebuah desa bernama Griffen, Austria, pada 6 Desember 1942, Griffen, Austria). Ibunya yang bernama Maria adalah dari golongan minoritas Slovenia. Ayahnya seorang tentara Jerman yang meninggal ketika dia masih kecil. Alhasil, dia dan saudara-saudaranya tumbuh bersama ibu dan suami barunya.

Setelah bersekolah di sekolah menengah Kristen di Klagenfurt, Peter Handke belajar hukum di Universitas Graz. Dia memutuskan untuk berhenti dari studinya ketika novel debutnya “Die Hornissen” (1966) diterbitkan.

Bukan cuma itu, pada tahun yang sama, dia dikenal sebagai penulis drama antikonvensional dengan drama penting pertamanya, Publikumsbeschimpfung (1966). Lakon ini menceritakan empat aktor menganalisis sifat teater selama satu jam dan kemudian secara bergantian menghina penonton dan memuji “pertunjukan”-nya. Tentu saja ini membangkitkan beragam reaksi.

Karya drama Peter Handke lainnya yang paling signifikan adalah drama panjang pertamanya, yang bertajuk Kaspar (1968). Lakon ini menggambarkan Kaspar Hauser yang telantar sebagai orang yang hampir tidak bisa berkata-kata karena dihancurkan oleh upaya masyarakat untuk memaksakan padanya bahasanya dan nilai-nilai rasionalnya sendiri. Lakon Handke lainnya termasuk Das Mündel will Vormund dan Der Ritt über den Bodensee (1971) alias The Ride Across Lake Constance.

Inilah novel Peter Handke

Sebagian besar novel Handke adalah kisah ultraobjektif dari karakter yang berada dalam kondisi pikiran yang ekstrem. Novelnya yang paling terkenal, Die Angst des Tormanns beim Elfmeter (1970) adalah sebuah thriller imajinatif tentang mantan pemain sepak bola yang melakukan pembunuhan tanpa tujuan dan kemudian menunggu polisi untuk membawanya ke dalam tahanan.

Die linkshändige Frau (1976) alias The Left-Handed Woman adalah deskripsi yang tidak memihak tentang seorang ibu muda yang sedang menghadapi disorientasi yang dia rasakan setelah dia berpisah dari suaminya. Memoar Handke tentang almarhum ibunya, Wunschloses Unglück (1972) alias Wishless Un-luck” juga merupakan karya yang efektif.

Novel Langsame Heimkehr (1979) ‘Slow Homecoming’ adalah cerita tiga bagian yang berpuncak dengan meditasi tentang menjadi ayah. Adapun novel In einer dunklen Nacht ging ich aus meinem stillen Haus (1997) ‘On a Dark Night I Left My Silent House’ mengikuti perjalanan perubahan perjalanan hidup seorang pria yang menjadi bisu karena cedera.

Lalu ada Der Bildverlust; oder, durch die Sierra de Gredos (2002) menziarahi kehidupan batin seorang wanita yang melintasi pegunungan Iberia. Novel Handke selanjutnya ada Der grosse Fall (2011) ‘The Great Fall’ dan Die Obstdiebin; oder, einfache Fahrt ins Landesinnere (2017).

Selain menulis lakon dan novel, Handke juga menulis cerpen, esai, drama radio, dan karya otobiografi. Yang dominan dari tulisan-tulisannya adalah menggunakan bahasa dan realitas sehari-hari. Tatanan pemikiran yang menyertai tulisan memberi efek membatasi dan mematikan pada manusia. karena manusia itu hidup didasari oleh irasionalitas, kebingungan, dan kegilaan.

Peter Handke juga terlibat dalam pembuatan film. Menurut catatan Britannica, Handke telah menulis skenario untuk beberapa film yang disutradarai oleh Wim Wenders, termasuk Der Himmel über Berlin (1987) ‘Wings of Desire’, dan dia menulis naskah untuk film dan adaptasi TV dari beberapa bukunya. Selain itu, ia menyutradarai tiga film layar lebar, termasuk L’Absence (19920).

Namun, ketenaran sastra Handke dibayangi oleh kegiatan politiknya pada 2006. Dukungan publik penulis terhadap Slobodan Milošević, mantan presiden Yugoslavia yang meninggal tahun itu saat diadili karena genosida dan kejahatan perang, menimbulkan kontroversi setelah Handke berbicara pada pemakamannya. Tapi, kemudian Handke terpilih untuk menerima Hadiah Heinrich Heine tahun itu, meskipun dia menolaknya.

Baca juga:

Peter Handke, Penulis Ultraobjektif Peraih Nobel 2019
Tagged on:             

One thought on “Peter Handke, Penulis Ultraobjektif Peraih Nobel 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.