Chiplanay from Pixabay

Tidak terasa saya sudah lima tahun mengajar menulis kreatif, waktu cepat berlalu. Saya bolak-balik arsip mengajar. Saya menemukan sebuah cerpen. Saya ingat, waktu itu saya memberi tugas menulis cerpen yang akan dibukukan. Saat itu teman-teman di kelas menulis kreatif meminta saya untuk ikut juga dalam buku kumpulan cerpen yang akan dibuat.

Tantangan itu saya sanggupi, jadiltah cerpen yang bercerita tentang donat. Saya pun bercerpen ria bersama anak-anak milenial. Cerpen saya itu bertajuk “Donat Stroberi untuk Dinda”, lumayanlah untuk Anda nikmati. Silakan.

HARI ini hari terburuk bagi Dinda. Dia kesal, dongkol, sedih. Pokoknya enggak keruan. Bayangkan saja, sesuatu yang amat berharga telah dicuri dari dirinya. Sesuatu yang dikirim oleh Boni, kekasihnya yang sedang studi di National University of Singapore, dirampas begitu saja. Padahal itu sudah ditunggu-tunggu selama satu minggu ini oleh Dinda. Yang bikin Dinda kesal buanget, sang pencurinya adalah Doni, kakaknya sendiri. Jadi, jelas ya, kalau dongkol, kesal, sedih, dan kawan-kawannya sekarang sedang merasuki dirinya.

“Tok, tok, tok…!” suara pintu diketuk dari luar.

Dinda bangkit dari tempat duduknya. Dibiarkan rambutnya yang acak-acakan hingga menutupi wajahnya. Dinda membuka pintu kamar. Di depan pintu berdiri Doni yang cengengesan. Dinda melihat kakaknya sedang melahap donat stroberi miliknya hingga wajahnya belepotan dengan cairan merah. Langsung saja Dinda menjerat kakaknya dengan rambut panjangnya sambil tertawa-tawa bak Sadako. Doni meronta-ronta, tapi Dinda tidak peduli, dia begitu dendam.

“Dinda…!” sebuah tepukan tangan membuyarkan khayalannya. Dia masih melihat Doni di depannya dengan tangan menepuk-nepuk pundaknya, tidak ada bekas stroberi di mulutnya. Dinda menepis tangan Doni.

“Dinda, Mamas mau minta maaf. Ini tadi Mamas belikan donat sejenis, malah lebih enak,” ujar Doni sambil menyodorkan sekotak donat stroberi.

“Enggak, aku enggak mau,” kata Dinda sambil menangis. “Aku enggak mau donat selain yang dikirim sama Boni .

“Dinda… ”

Jebret! Pintu itu tertutup.

***

“Aku kesal dan sedih Yuli,” ujar Dinda sambil meletakkan tas ke meja di kamarnya.

Hari ini Dinda mengajak Yuli mampir ke rumahnya. Dia ingin curhat securhat-curhatnnya ke sahabatnya. Ya, Yuli dan Dinda memang bersahabat sejak mereka di kelas tujuh hingga di kelas dua belas ini. Bedanya, Dinda lebih suka membiarkan rambut tergerai atau dikuncir kuda, sedangkan Yuli berhijab.

“Mungkin Mas Doni enggak sengaja,” ujar Yuli sambil tersenyum berusaha mengurangi kekesalan sahabatnya yang berhidung bangir dan berlesung pipi itu.

“Sengajalah. Masak makan enggak sengaja. Memangnya ada, orang yang langsung kenyang tanpa sengaja makan sesuatu.”

Lagi-lagi Yuli hanya senyum.

“Mamas enggak tahu, itu bukanlah donat biasa, tapi donat cinta.”

“Wow….”

“Boni memang memesannya dari toko donat di sekitar Bekasi sini. Tapi, dalam donat itu selalu terselip kertas kecil yang berisi kata-kata cinta….”

“So sweet banget….!”

“Yang aku ingat, donat stroberi pertama yang dikirim Boni berisi tulisan, ‘Dinda, kamu itu pelita cintaku, tanpa kamu, aku tidak bisa melihat.’ Di donat yang ketiga belas, dia menulis, ‘Dinda, hari boleh berganti, tapi cintaku kepadamu tidak pernah berganti’….,” Dinda berhenti bicara, seperti ada beban yang harus diungkapkan.

Yuli melihat wajah sahabatnya itu. Dia tahu apa yang dirasakan Dinda.

“Donat yang dimakan Mamas adalah donat yang ke sembilan belas. Yang membuat aku sedih, aku tidak tahu kata-kata cinta apa lagi yang ditulis Boni untukku….” kata Dinda dengan mata berkaca-kaca.

Dinda menunduk. Dia kini benar-benar menangis. Air mata mengalir di pipinya. Yuli menggeser duduknya hingga mendekati Dinda. Yuli menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

***

“Mas Doni sih rakus,” ujar Yuli, ketika bertemu Doni di alun-alun kota Bekasi.

Ya, hari ini Doni memang mengajak Yuli bertemu. Dia merasa bersalah terhadap adiknya. Hanya karena sebuah donat, dia telah menyakiti adiknya itu.

“Yuli, aku sudah dengar apa yang kalian bicarakan di kamar Dinda. “

“Aku baru tahu, kalau mencuri itu sudah menjadi kebiasaan Mas Doni. Pertama, mencuri donat Dinda; kedua, mencuri dengar percakapan Yuli sama Dinda…”

“Ketiga, mencuri hati kamu… he he he….!”

Yuli terdiam. Wajahnya memerah.

“Sudah…!” Doni berusaha menetralisir suasana. “Jadi, menurut kamu, aku harus bagaimana agar Dinda kembali ceria…”

“Yang membuat sedih Dinda bukanlah persoalan donat kesembilan belasnya, melainkan pesan yang ada di dalamnya. Jadi, Mas Doni harus menyampaikan pesan cinta yang sudah Mas Doni telan bersama donat itu.”

“Ternyata anak kelas XII bisa lebih pintar dari mahasiswa jurusan matematika.”

“Itu karena orang-orang eksak kurang peka.”

“Siapa bilang, aku peka kok. Lapar kan, ayo sekarang kita ke Mal Sumarecon….”

Yuli dan Doni jalan berdampingan. Mereka memang sepasang kekasih. Doni sudah tertarik pada sahabat adiknya itu sejak Yuli kelas sembilan. Hanya dia baru menyatakan ketika Yuli kelas sebelas. Dinda pun seperti setuju dengan perubahan status sahabatnya.

Kesiur angin dan dedaunan yang berguguran ditiup angin meningkahi canda tawa Yuli dan Doni. Suara canda dan suara langkah kaki itu pun makin menjauh.

***

Ini hari kesepuluh sejak donat stroberi Dinda dimakan Doni. Dinda masih kesal sama Mamas. Hari ini dia malah kesal sama Boni. Kok bisa? Ya, bisalah, bayangkan saja sejak pagi tadi Dinda tidak bisa menghubungi Boni. Padahal, Dinda mau curhat soal donat stroberinya yang dimakan Doni, soal pesan cinta yang belum dibaca.

Apakah begitu ketat belajar di Singapura, sehingga si ponsel harus dimatikan sedang aktif berkuliah. Atau, Boni memang sengaja mematikan ponselnya karena mau konsentrasi menghadapi ujian. Entahlah. Yang pasti, Dinda merasa bahwa semua cowok memang ngeselin.

Dinda masih tergolek di tempat tidur. Pagi tadi dia berusaha menghubungi Boni. Siang juga dia sengaja ke kantin lebih awal biar bisa telepon Boni. Malam ini di kamarnya, dia juga berusaha menghubungi Boni. Semua nihil.

Dia bertanya-tanya, jangan-jangan Boni sudah melupakannya. Tapi, Boni itu tipe cowok yang setia, enggak mungkin melakukan itu. Kalau setia, kenapa Boni mematikan ponsel ketika ia membutuhkan tempat curhat. Tapi, kalau Boni benar-benar selingkuh gimana ya? Pertanyaan demi pertanyaan berputar terus dalam pikiran Dinda. Capek. Dinda terlelap membawa sejuta pertanyaan.

***

Dinda sebenarnya malas untuk datang ke kafe ini. Kafe yang penuh kenangan dengan Boni. Padahal, hatinya saat ini sedang galau. Namun, karena Yulia yang mengajak Dinda mau saja. Yulia beralasan, dia akan bertemu sahabat lamanya yang kuliah di luar negeri. Sahabatnya itu, kata Yulia, ingin bertemu juga dengan dirinya. Soalnya, Yulia sudah banyak bercerita dengan sahabatnya itu perihal pertemanannya dengan Dinda.

Seusai menyeruput jus jeruk, Dinda menghela napas panjang. Sambil menatap Yulia, Dinda berkata lirih, “Aku khawatir Yulia.”

“Khawatir apa?

“Kalau Boni memang sudah melupakan aku.”

Yulia hanya tersenyum. Untunglah, meskipun sinar lampu kafe yang tidak begitu terang, ia masih bisa melihat wajah Dinda yang dipenuhi oleh kekhawatiran.

“Tanda-tandanya kan sudah jelas. Donat dari Boni tiba-tiba dimakan sama Mamas. Ponsel Boni enggak bisa dihubungi.”

“Sudah, jangan kebawa perasaan begitu. Boni baik-baik saja, ia juga masih begitu mencintai kamu.”

“Sok tahu.”

“Tahulah, Boni yang ngasih tahu.”

“Iya, aku yang ngasih tahu,” sebuah suara yang berat tiba-tiba menyela .

Dinda menoleh. Itu Boni. Dia berdiri di sana dengan sebuah kotak kecil donat. Dinda segera menghampiri.

“Boni, aku enggak tahu pesan cinta kamu di donat kesembilan belas.”

“Enggak apa-apa. Aku ke sini justru ingin menyampaikan pesan cinta itu.”

“Ah, Boni…kamu baik sekali,” ujar Dinda. Pupus sudah kecurigaan Dinda. Boni masih seperti dulu. Romantis dan setia.

“Ini semua ide Mas Doni.”

“Mamas….” Dinda menoleh ke belakang, Doni sudah duduk di sana bersama Yulia. Ia tersenyum. Dinda menatap Yulia. “Yulia, kamu bohong ya.”

Yulia tersenyum terpaksa. Ia merasa sedikit bersalah. Tapi,

“Terima kasih Yulia….!”

“Sekarang aku ingin menyampaikan pesan cinta itu,” kata Boni sambil meletakkan kotak donat di meja. Dia memegang tangan Dinda. “Dinda, aku ingin suatu ketika terdampar di pulau kosong. Biar setiap hari yang kulihat hanya kamu.”

Dinda menatap wajah Boni dengan penuh cinta.

“Nah, pesan cinta berikutnya ada dalam donat tadi. Mari kita makan bersama.”

Namun, semuanya terbelalak. Doni sedang asyik memakan donat yang tadi diletakkan Boni di atas meja.

“Mamas……!!!!!”

Baca juga:

Saya dan Kenangan Donat Stroberi
Tagged on:                 

7 thoughts on “Saya dan Kenangan Donat Stroberi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.