saya senang

Saya mendapat kiriman buku yang bertajuk Hidup yang Kusyukuri, maturnuwun Gusti. Buku ini merupakan buku yang saya sunting. Buku biografi seorang mantan pejabat Kementerian Tenaga Kerja. Saya senang sekali, sebuah buku hasil kerja bersama itu bisa terbit.

“Mas Tri Terimakasih sudah menjadi editor bagi buku saya,” kata-kata itu yang menyertai sebuah buku yang dikirimkan kepada saya pekan lalu. Kata-kata ini membuat saya senang sekali. Ucapan terima kasih yang tulus. Ini adalah kelanjutan dari pesan whatapps yang dikirim ke saya sepekan sebelumnya.

Pesan whatapps sepekan sebelumnya, si bapak yang berusia 75 tahun lebih itu meminta saya mengirimkan alamat, sambil mengabarkan bahwa buku yang saya sunting sudah dicetak dan jadi buku. Bahkan, si bapak, yang biasa saya sapa Pak Sur, yang pensiunan pejabat Kementerian Tenaga Kerja itu memberi catatan bahwa bukunya juga sudah didistribusikan dengan baik. Saya senang mendengarnya .

Kemudian Pak Sur juga menyebutkan bahwa anak-anaknya senang membaca buku tersebut. Kalimatnya mengalir. Malah, kerabat yang lain juga bilang bahwa mereka tidak menyangka bila kakak, paman, dan eyang kakungnya itu bisa menulis dengan baik.

Saya membayangkan beliau pasti tersenyum bangga menerima pujian itu. Ah, saya senang bukan main. Karena ini, menurut saya, merupakan kesempatan terakhir bagi bapak yang sudah berusia 75 tahun lebih itu. Jerih payahnya dalam menulis berbuah manis. Wah, saya jadi ingin mengucapkan selamat berulang-ulang kepada Pak Sur. Di usianya lanjutnya beliau masih mau bersusah payah menulis.

Bagaimana dia menulis?

“Aku menulis masih tradisional, masih menggunakan bolpoin. Di zaman industri 4.0 dan semua mengarah ke digitalisasi dan robotic, aku masih menulis dengan manual. Tentu saja sangat tidak efektif. Tapi, apa mau dikata, aku memang gaptek,” tulisPak Sur di bukunya.

Pak Sur juga menulis bagaimana cara dia menulis biografinya itu. Dia menulis apa yang dia ingat. Jadi ceritanya tidak runtun. Sudah begitu, dia menulis seperti ketika berbicara. Wah, kata dan kalimatnya banyak yang tidak gramatikal.

Bukan cuma itu, paragraf yang tersusun juga tidak menggambarkan keutuhan sebuah paragraf. Jadi, paragraf hanya sekadar untuk memisahkan agar terlihat ada paragraf. Kalau definisi paragraf menyebutkan setiap kalimat dalam paragraf harus padu, itu sama sekali tidak tercapai. Banyak kalimat sumbang dalam satu paragraf.

Tidak padunya paragraf yang disusun, ini mencerminkan ketidakterampilannya dalam menulis. Dia juga mengungkapkan tidak bisa menulis dengan baik. Satu-satunya yang dirasakan bisa menulis dengan baik ketika menulis surat cinta. “Dulu aku memang suka menulis, tapi menulis surat cinta. Ketika itu saya mood sekali…,” tulis Pak Sur.

Salah satu motivasi yang kuat untuk beliau menulis adalah untuk melatih memorinya yang mulai menurun. Selain itu juga untuk mengisi kegiatan yang semakin berkurang. Satu hal lagi yang menurut saya penting, dia ingin mewariskan sesuatu yang bisa dikenang oleh anak cucunya. Beliau senang menulis dengan segala kekuaranganya, saya senang bisa membantunya.

Semangat dia, semangat saya

Semangat bapak yang satu ini dalam menulis, membuat saya juga ikut semangat untuk menyelesaikan tugas. Si bapak mempercayai saya untuk membantu merapikan tulisannya. Dengan segala kelemahan yang dimilikinya, sudah bisa dibayangkan banyak pula yang perlu diperbaiki.

Yang saya harus perbaiki pertama kali adalah kelisanannya. Bahasa lisan dan bahasa tulis tentu saja berbeda. Bahasa lisan cenderung menghilangkan imbuhan, kalimat tidak mempunyai subjek, kalimat tidak selesai.

Lalu, paragrafnya, seperti saya tulis di atas, terdiri dari banyak kalimat sumbang. Alhasil, banyak paragraf yang terpaksa saya tulis ulang. Selain itu, banyak juga sub-subbahasan yang salah tempat. Dengan begitu, saya membaca semua tulisan untuk memindahkan subbahasan itu ke tempat yang benar.

Misalnya, ada subbahasan yang menceritakan kejadian masa kecilnya yang mempengaruhi kehidupannya ketika mahasiswa. Dia bercerita banyak perihal masa kecilnya tapi diletakkan di masa remajanya. O ya, biografi Pak Sur ini dibagi sesuai dengan perjalanan hidupnya. Masa kanak-kanak, remaja, bekerja, menikah, masa lansia.

Tapi, jangan khawatir, saya senang melakukannya. Saya senang dengan tulus dari hati, saya tidak ada beban. Saya ingin membantu apa yang ingin disampaikan oleh si bapak. Agaknya, buku ini pun menjadi buku “pamit”.

Pak Sur sudah merasa menjalani hidup dengan baik. Bila ada kesalahan, namanya juga manusia. Dia selalu berusaha menjalankan semua perintahnya. Ibadah dan beramal. Pada halaman terakhir, dia menulis, “Semua aku serahkan sepenuhnya kepada sang pencipta, kami telah siap sepenuh hati dan ikhlas menunggu panggilan-Mu. Allah Mahabesar, kami akan menghadap-Mu. Aamiin ya Rabbal aalamin.

Semoga bantuan kecil saya bisa membahagiakannya. Saya senang bisa membantu, saya senang bisa membuat Pak Sur bangga dengan perjalanan hidupnya. Saya Tri Adi Sarwoko, penyunting, penulis, dan trainer. Salam.

Baca juga:

Wah, Saya Senang Mendengar Bukunya Dicetak
Tagged on:     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.