Dalam menulis terkadang kita mengalir begitu saja menggunakan kata-kata yang terlintas. Ternyata dalam kata-kata itu memiliki sejarah sendiri.

Yang menggelisahkan saya akhir-akhir ini adalah soal penyeragaman dalam media massa kita. Bila penyeragaman itu hanya untuk mengonsistenkan dalam menerjemahkan kata asing, saya malah salut. Misalnya saja semua kata dalam bahasa Inggris yang berakhiran -ity diterjemahkan dengan –tas karena mengacu pada bentuk sebelumnya seperti university menjadi universitas, commodity menjadi komoditas, perubahan selebrity menjadi selebritas bisa diterima.

Tapi, mengapa kita harus menyeragamkan semua kata yang berhuruf awal k, p, t, s, yang diberi imbuhan me-. Padahal, tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang seragam atau konsisten dengan aturan tata bahasanya sendiri. Mengapa mereka tidak menyikapi bentuk yang berbeda itu sebagai sebuah bentuk kekecualian, seperti dalam bahasa Inggris. Jadi, bentuk mempesona biarlah seperti itu tidak perlu menjadi memesona, mempunyai tidak perlu menjadi memunyai.

Menurut hemat saya, bentuk mempesona atau mempunyai memiliki alasan sendiri secara etimologi. Mengapa mempunyai tidak menjadi memunyai karena kata punya sebenarnya dari kata empunya sehingga tidak mungkin menjadi memunyai. Selain itu, secara fonologis pun mempunyai lebih enak didengar dan mudah diucapkan ketimbang memunyai. Begitu pun dengan kata mempesona pasti memiliki alasan etimologis dan fonologis sendiri.

Jadi, kalau kita menemukan suatu bentuk dalam bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan bentuk-bentuk lain, jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa bentuk itu inkonsisten. Anggap saja itu merupakan bentuk kekecualian. Ingat, bentuk-bentuk kekecualian seperti ini sebenarnya merupakan kekayaan bahasa Indonesia yang harus dijaga bukan malah dihilangkan atas nama ketaatasasan alias konsistensi. Salam.

Baca juga:

Sebelum Menulis, Enggak Salah dong Melihat Historis Katanya
Tagged on:                         
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.
Powered by