sapardi djoko damono
Sapardi Djoko Damono / Wikimedia

Sapardi Djoko Damono, sang maestro penyair Indonesia, meninggal dunia hari Minggu, 19 Juli 2020. Tapi, jejak kepenyairannya yang mumpuni akan selalu melekat di hati masyarakat.

Setiap kelas menulis kreatif sampai pada pembahasan puisi dan bagaimana menulisnya, saya selalu mencontohkan puisinya Sapardi Djoko Damono berikut:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada

Puisi bertajuk “Aku Ingin” ini memiliki pilihan kata yang sederhana, dan ini memang ciri khas dari maestro sastra Indonesia ini. Ini menjadi contoh yang amat baik, bahwa menulis puisi tidak harus menggunakan kata-kata yang sulit, kata-kata yang indah, yang lebih penting dari itu adalah kedalaman makna yang dikandungnya.

Perjalanan kepenyairan sapardi cukup panjang, sederet karyanya pun berjajar. Dukamu Abadi adalah judul kumpulan puisi Sapardi yang pertama kali diterbitkan pada 1969. Lalu berlanjut karya berikutnya seperti Mata Pisau (1974), Hujan Bulan Juni (1994), hingga Kumpulan Sajak Kolam (2009). Kurang lebih Sapardi telah menulis 11 buku sastra dan tujuh buku telaah sastra Indonesia.

Seperti berbisik

Puisi lelaki yang lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940 yang cukup mendapat tempat di hari masyarakat adalah “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni”.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi Sapardi begitu lembut, seperti berbisik. Sekarang, 19 Juli 2020, sang maestro ini telah menemui sang Khalik pada pukul 09.17 WIB. Agaknya, selama ini Sapardi telah merahasiakan rintik rindunya kepada Yang Mahakuasa. Semoga segala amal baiknya diterima Allah dan karyanya meninggalkan kebajikan dan menjadi ladang amal yang tak pernah berhenti. Amin. Selamat jalan.

Baca juga:

Selamat Jalan, Sapardi Djoko Damono
Tagged on:                             

8 thoughts on “Selamat Jalan, Sapardi Djoko Damono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.