buku korona

Di tengah gempuran virus korona alias Covid-19, akhirnya bisa terselesaikan buku kumpulan feature dari teman-teman muda saya. Ini memang kegiatan rutin, setiap akhir pembelajaran saya selalu membukukan hasil tulisan peserta kelas saya. Saya yakin buku ini berguna untuk portofolio bagi teman-teman muda. Ya, paling tidak membuktikan bahwa mereka bisa menulis.

Kali ini di semester genap saya memang mengampu kelas penulisan feature. Sebagian besar peserta yang mengikuti kelas saya adalah teman-teman muda yang pernah ikut di kelas penulisan kreatif. Alhasil, mereka sudah lumayan mahir dalam menulis cerita.

Yang menjadi persoalan adalah mereka terjebak dengan gaya penulisan fiksi. Mereka terjebak pada sudut pandang penulisan kreatif. Misalnya saja, mereka dengan cuwek bisa membaca pikiran si narasumber. Tentu saja ini gaya penulisan fiksi dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Misalnya saja, dari mana teman saya itu bisa mengetahui pikiran dan pergolakan batin si sumber berita. Satu kesimpulan saya, ini mengarang atau bisa jadi tidak melakukan wawancara dengan sumber.

Salah satu teman saya itu menulis begini:

  • Ketika Pak Agus pulang, istrinya yang sedang memasak di dapur bergegas berlari menyongsong suaminya. Selama beberapa hari ini yang ada di pikirannya keselamatan suaminya. Maklum saja, ketika Pak Agus pergi berdagang sedang sedikit flu dan ini di tengah pandemi korona….

Yang menjadi pertanyaan, dari mana si penulis feature mengetahui istrinya Pak Agus meninggalkan masakan di dapur ketika menyongsong suaminya. Si penulis atau reporter ini pasti datang bersama Pak Agus yang menjadi sumber, semestinya yang dilihat adalah istri Pak Agus keluar dari rumah. Bagaimana pula si reporter mengetahui rasa khawatir sang istri.

Mau jadi reporter atau paranormal

Saya memberi tahu teman saya itu agar menulis apa yang ada dalam hasil wawancara dan apa yang dilihat saja. Soal isi pikiran orang-orang yang terlibat di sana, pasti itu mengarang, abaikan, lagi pula memang bisa mengetahui dengan benar apa isi pikiran orang-orang itu, kecuali teman saya itu paranormal.

Saya minta teman saya itu memperbaiki. Kalau memang masih kurang materi wawancaranya, sehingga terpaksa mengarang untuk memenuhi target seribu kata, ya lakukan wawancara tambahan. Lagi pula, menulis feature itu adalah menulis berita dengan teknik menulis kreatif, artinya formula berita yang 5W1H tetap berlaku.

Alhamdulillah, sebagian besar sudah benar dalam menulis dan melakukan wawancara. Di tengah pandemi korona alias Covid-19 mereka mewawancarai sumber, sungguh butuh keberanian dalam menghadapi tekanan dari terpaan berita perihal begitu bahayanya korona dan protokol kesehatan serta tekanan dari orang tua dan teman-temannya.

Buku kumpulan feature telah berhasil dicetak dan dibuat e-book. Teman-teman muda kelas penulisan feature, inilah hasil jerih payah kalian. Salam.

Baca juga:

Selamat, ya, Akhirnya Jadi Juga Buku Korona
Tagged on:                     
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.