SIKM dan temannya
Singkatan bikin makna terdistorsi / Hbieser (Pixabay)

Kita tak bisa menghindar dari singkatan dan akronim, sampai-sampai untuk mengobrol pun bisa memakai singkatan dan akronim. Bahkan singkatan juga menjadi salah satu jurus komedian untuk memetik tawa.

Singkatan yang paling top di masa pandemi koronavirus alias Covid-19 adalah PSBB, SIKM, dan terakhir CLM. Covid-19 mesti sudah tahu ya, akronim dari corona virus 2019, SIKM singkatan dari Surat Izin Keluar Masuk Jakarta. Yang paling anyar CLM alias Corona Likelihood Metric (CLM), keren ya dengan singkatan bahasa Inggris.

Namun, sejatinya kita sejak dulu sudah dihujani dengan singkatan dan akronim. Yang rajin memproduksi singkatan akronim dan singkatan siapa lagi kalau bukan koran. Setiap hari koran baik cetak atau digital pasti memproduksi singkatan dan akronim, ini memang tidak terhindarkan. Singkatan bukan hanya membuat tulisan lebih pendek melainkan juga membuat membaca lebih lancar. Misalnya:

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali memperpanjang pembatasan sosial berskala besar alias PSBB pada masa transisi fase pertama selama dua pekan atau 14 hari. Pembatasan sosial berskala besar masa transisi diperpanjang terhitung sejak 17 Juli sampai 30 Juli 2020. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, sesuai siaran langsung di Metro TV, Kamis (16/7/2020), berujar bahwa gubernur telah menandatangani keputusan mengenai perpanjangan pembatasan sosial berskala besar masa transisi tersebut. Pembatasan sosial berskala besar transisi diperpanjang karena Jakarta dinilai belum aman dari penyebaran Covid-1

Coba bandingkan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali memperpanjang pembatasan sosial berskala besar alias PSBB pada masa transisi fase pertama selama dua pekan atau 14 hari. PSBB masa transisi diperpanjang terhitung sejak 17 Juli sampai 30 Juli 2020. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, sesuai siaran langsung di Metro TV, Kamis (16/7/2020), berujar bahwa gubernur telah menandatangani keputusan mengenai perpanjangan PSBB masa transisi tersebut. PSBB transisi diperpanjang karena Jakarta dinilai belum aman dari penyebaran Covid-19

Lebih enak dibaca yang kedua bukan. Pengulangan istilah yang panjang juga membosan pembaca bosan. Jadi singkatan dan akronim di media bukan karena keterbatasan halaman dan alasan lainnya. Tetapi lebih karena kenyamanan membaca.

Jangan berlebihan

Siapa lagi yang rajin memproduksi singkatan? TNI dan Polri, kedua instansi pemerintah setiap bagian dan memiliki singkatan dan akronim. Misalnya, Bareskrim akronim dari Badan Reserse Kriminal, Satbanpur alias Satuan Badan Tempur, Armed alias artileri medan.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah meruyaknya singkatan dan akronim di media. Ada yang berpendapat akronim dan singkatan membuat makna dari kata yang diakronimkan terdistorsi, seperti tilang sudah kehilangan makna aslinya.

Tilang kerap dimaknai sebagai tindakan pelanggaran aturan berkendara oleh polisi. Padahal, tilang adalah bukti dari pelanggaran itu sendiri yang ditulis di surat, jadi tindakan polisi bukanlah tilang. Itulah hilangnya makna dari kata yang menyusun akronim tilang yaitu bukti pelanggaran.

Karena itu, dalam sebuah seminar media massa sekitar awal tahun 2000, ada yang menyarankan agar tidak kehilangan makna, maka akronim perlu memperjelas unsur-unsur yang membentuknya. Misalnya akronim Jateng harus ditulis Ja-Teng, Sumbar ditulis Sum-Bar. Agaknya usulan itu tak bersambut.

Sebenarnya, akronim atau singkatan tidak masalah digunakan asal tidak berlebihan. Atau memang kita memasuki dunia serba instan, sehingga sampai dalam berbahasa pun perlu dipendekkan, seperti SIKM tadi. Sudahlah, yang penting jangan berlebihan, imubro. Apaan imubro? Itu memuakkan bro. Ah, CLM BPS. Apaan tuh? Calm bikin pusing saja. Salam.

Baca juga:

Setelah SIKM, lahirlah CLM, Jadi BPS deh
Tagged on:                         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.