mau belajar menulis

“Pak Tri sabar dan cara penyampaian materinya mudah dipahami,” tulis sebuah testimoni di buku Melancong di Bekasi. “Beliau salah satu dosen yang menyenangkan, selalu menjelaskan materi dengan gayanya yang santai dan tidak tergesa-gesa.”

Bagi saya mengajar menulis tidak sama dengan mengajar teori. Belajar menulis bukanlah belajar tentang menulis, melainkan menulis itu sendiri. Tidak perlu ada yang dihafal. Di kelas saya tidak ada definisi paragraf ialah…. yang ada menemukan paragraf dalam tulisan mereka sendiri.

Berbicara definisi dalam belajar menulis cenderung menjebak kita untuk hanya belajar tentang menulis. Cara belajar saya adalah induksi. Dari sekian tulisan yang mereka buat mereka akhirnya bisa menemukan paragraf itu apa? Bagaimana paragraf pembuka dan penutup? Termasuk bagaimana menggunakan tanda baca.

Itulah yang membuat saya harus menjelaskan satu per satu. Kebutuhan setiap peserta tentu berbeda-beda. Itulah gunanya prates sebelum mengikuti pelajaran. Saya jadi bisa mengetahui peta kemampuan orang-orang yang masuk ke kelas saya.

Dengan begitu, saya tahu persis kebutuhan dari peserta yang masuk ke kelas saya. Yang terlemah tentu akan mendapat perhatian lebih. Kenapa? Karena banyak yang harus diperbaiki. Yang sudah mampu tentu akan menerima materi pembelajaran untuk lebih meningkatkan kualitas.

Berbeda perlakuan

Satu kelas bisa berbeda-beda perlakuannya. Memang. Itulah mengapa saya lebih senang kelas saya disebut sanggar kerja alias workshop. Yang saya lakukan adalah mentoring. Memantau dan memberi tahu bagaimana peserta seharusnya menulis.

Belajar menulis memang memerlukan mentoring yang juga ahli. Belajar menulis tanpa mentor seperti masuk ke hutan belantara tanpa peta harta karun. Hartanya tidak dapat, tersesat mah iiya. Nah, biar bisa dapat harta menulis, ikuti peta mentoring.

Testimoni di atas berasal dari Indri Andani, peserta yang mengikuti kelas menulis feature tahun 2017. Dia menyebut saya sabar. itu karena saya memang harus menjelaskan secara detail agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Menyenangkan. Ya, saya berusaha membuat suasana kelas menjadi menyenangkan agar pelajaran menjadi lebih mudah diserap. Seperti yang dibilang guru menulis yang mumpuni, Hernowo Hasim, “Kegembiraan saat belajar berarti membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan untuk melahirkan sesuatu yang baru.”

Itulah yang saya lakukan. Siapa yang mau belajar menulis dengan saya?

Baca juga:

Belajar Menulis itu Bukan Belajar Menghafal
Tagged on:                 

3 thoughts on “Belajar Menulis itu Bukan Belajar Menghafal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.