Menulis itu menggunakan otak kanan, janganlah direcoki dengan tata bahasa yang otak kiri.

Ketika baru disodorkan kertas, ada orang yang langsung keluar keringat dingin. Dia tidak bisa menulis. Dia takut bahasanya salah. Dia tidak menguasai ejaan. Dia tidak menguasai tata bahasa. Wow, saya langsung terduduk. Sepertinya tubuh saya tidak bertulang. Lemas.

Menulis tidak ada hubungannya dengan tata bahasa. Tapi, mengapa tata bahasa sampai harus membuat orang tidak mampu menulis. Karena itu, saya selalu berulang-ulang bilang, “masak bodoh dengan tata bahasa”. Kita menulis untuk dibaca, bukan untuk dicocok-cocokkan dengan tata bahasa.

Pasti ada yang tidak setuju. Tidak apa-apa. Tata bahasa memang penting, tapi itu nanti kalau sudah gembira dalam menulis. Kalau baru belajar menulis, singkirkan dulu tata bahasa. Mengapa?

Menulis dan tata bahasa adalah dua proses yang berbeda. Menulis menggunakan otak kanan, adapun tata bahasa menggunakan otak kiri. Jelas ya. Otak kiri adalah otak kreatif yang jauh dari benar-salah. Jadi, ketika orang menulis, ya, menulis terus jangan khawatir dengan berbagai kesalahan. Kalau ada orang yang melihat bahwa itu salah, itu adalah persoalan orang itu sendiri. Kenapa dia membaca tulisan yang sedang ditulis. Kenapa dia menggunakan otak kiri ketika orang sedang menulis itu menggunakan otak kanan.

Persoalannya, kita sejak kecil sudah dilatih untuk selalu menggunakan otak kiri. Efeknya ketika akan menulis sudah dipenuhi dengan norma-norma salah-benar. Baru menulis satu kalimat sudah dibayangi: ejaan katanya benar tidak, penulisannya sesuai dengan struktur kalimat yang benar atau tidak. Kalau begini, kapan selesainya tulisan itu. Ingat, ya, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai.

Tata bahasa berisi aturan standar suatu bahasa. Dari mana tata bahasa mendapat aturan-aturan dalam berbahasa, ya, dari masyarakat bahasa. Dari kita-kita ini. Sejatinya ketika berbahasa dan menulis kita sudah menggunakan tata bahasa. Hanya mungkin kurang cermat. Jadi, enggak menyimpang-nyimpang amat.

Sekali lagi, kalau mau menulis, ya, tulis saja dengan gembira. Tata bahasa, ya, nanti kalau tulisan sudah selesai. Begitu.

Baca juga:

Singkirkan Aturan, Menulislah dengan Gembira
Tagged on:                 

3 thoughts on “Singkirkan Aturan, Menulislah dengan Gembira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.