Joke merupakan tulang punggung dalam lawakan. Apa pun gaya lawakannya tetap memerlukan joke. Memang, ada pelawak yang mampu membuat tawa penontonnya tanpa perlu berbicara. Tapi, joke mampu memperkuat apa yang mereka lakukan.

Joke yang secara umum disebut lelucon merupakan amunisi yang harus dimiliki seorang pelawak. Amunisi yang siap diledakkan di urat tawa penonton. Meskipun ada yang bilang joke is easy, masih lebih banyak yang bilang membuat joke itu susahnya minta ampun. Tak kurang dari Dono almarhum, semasa hidupnya pernah mengeluh bahwa membuat lelucon yang benar-benar lucu itu susahnya setengah mati.

Karena itu, bagi pelawak joke merupakan rahasia yang harus dijaga ketat. Pasalnya, joke acap dianggap sebagai harta karun. Dengan begitu wajar bila ada kelompok lawak yang sedang membicarakan materi lawakan akan terhenti pembicaraannya ketika ada orang yang datang. Apalagi kalau yang datang itu juga pelawak. Mereka takut materi lawakan yang sedang mereka bikin akan dicuri.

Karena itu, para pelawak berusaha tidak membicarakan lawakan atau materi lawakan setiap saat. Miing, misalnya, memilih serius ketika tidak melawak. Dalam program-program televisi yang bukan lawak, dia sama sekali tidak melucu.

Berikut saya ingin menggambarkan bagaimana sebuah joke harus dirahasiakan, perihal yang satu itu saya pernah membaca dalam blognya Bambang Haryanto, seorang pengamat lawak. Mungkin bagi generasi milenial, nama-nama pelawak yang disebut nanti tidak familiar. Bambang bercerita bahwa kasus curi-mencuri ide ini sudah terjadi sejak pelawak angkatan lama. Pelawak-pelawak jadoel itu pernah meributkan soal ini. Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) pernah dituduh oleh Darto Helm, Diran, dan Sol Soleh dari kelompok Bagio CS telah menjiplak lawakan marga orang batak milik mereka.

Lawakan itu sebagaimana dituturkan Darto Helm, “Waktu itu kami pentas di Taman Ismail Marzuki. Karena di Teater Terbuka, hawanya dingin. Diran bilang, wah, hawanya Siregar. Saya sahut, rasanya jadi berjalan di Tobing-Tobing. Sol Saleh menyahut, hati-hati, jangan sampai celana sobek, nanti ke Panjahitan.”

Hal tersebut menyebabkan Nanu dari Warkop meminta maaf kepada kelompok Bagio Cs itu. Us Us pun mengaku pernah mengambil gaya Warkop DKI, yakni dalam hal pembelokan logika berpidato. Qomar dari Empat Sekawan malah mengaku sebagai “fotokopi yang baik dari Bagio CS dan Srimulat.”

Itu sekelumit persoalan mengenai betapa berharganya sebuah lelucon atau yang disebut joke itu. Tapi, sebenarnya dalam joke ada jati diri pembuatnya. Karena itu, mencuri ide orang lain sama saja dengan mengkhianati diri sendiri. Dengan kata lain, joke memiliki keunikan sendiri. Joke yang dibuat oleh satu orang bisa berbeda cita rasanya meskipun mengacu pada referen yang sama. Begitu ya.

Baca juga:

Ssssttt…. Joke Jangan Diumbar
Tagged on:                     

6 thoughts on “Ssssttt…. Joke Jangan Diumbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.