Meskipun saya saat ini lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan dan penulisan, saya cukup lama juga menjadi tim kreatif untuk sebuah grup lawak, juga menjadi penulis naskah komedi untuk sejumlah program komedi di televisi. Saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya menyiapkan joke agar grup yang saya kreatifi bisa tampil maksimal. Inilah beberapa catatan saya.

Tugas pelawak atau komedian yang paling pokok adalah menghibur orang dengan membuat orang tertawa pada perilaku kita. Sejatinya persiapan seorang komedian sebelum membuat tertawa orang lain adalah siap untuk ditertawakan. Inilah sesungguhnya mental dasar yang harus dimiliki seorang komedian. Bila kita tidak siap untuk ditertawakan karena perilaku ketololan kita sendiri, baik itu disengaja maupun memang sudah karakter dasar, berhentilah menjadi pelawak atau komedian.

Mengolok-olok diri sendiri. Melawak atau melucu yang baik menurut beberapa teori adalah mengolok-olok diri sendiri. Lihat saja Tukul. Dia dengan cuweknya mengejek diri sendiri. Kendati ejekan itu bisa pula berdampak kritikan pedas pada orang lain.

Kelemahan Tukul karena keterbatasan dirinya yang tidak bisa berbahasa Inggris serta kekikukannya dalam membawakan acara merupakan modal utamanya di Empat Mata.

Ada seorang komedian berpendapat, “Orang kan senang kalau disanjung-sanjung. Kalau saya sih lebih senang njelek-njelekin diri sendiri. Soalnya dari situ saya dapat duit. Kalau tidak dapat duit ya percuma.”

Sadar audiens. Setelah siap untuk ditertawakan. Sekarang mari kita susun strategi pertempuran kita. Medan tempur kita di mana. Bila ada di tengah-tengah siswa SMU atau remaja. Berarti kita harus mencari joke-joke yang berkenaan dengan audien yang akan kita hadapi.

Misalnya, kita diterjunkan untuk menghibur siswa SMU selepas ujian nasional. Yang paling penting rasanya kita harus turut merasakan juga bagaimana yang dirasakan para siswa itu ketika ujian. Dengan begitu, kita bisa dengan jitu membidik sesuatu yang sebenarnya berpotensi lucu kendati miris. Kita kumpulkan joke mengenai SMU yuk!

Demografi atau profil penonton kita menjadi penting untuk menyusun strategi joke. Artinya bila audien kita orang kampung di pelosok negeri ini, jangan menggunakan joke kota. Mereka tidak akan mengerti karena tidak mempunyai referen yang sama dengan kita. Ketika kita melontarkan lelucon mengenai busway, tentu mereka tidak mempunyai bayangan sama sekali perihal busway. Tapi, bila kita melontarkan joke mengenai pertanian., atau kegagapan mereka menerima teknologi modern seperti televisi dan kulkas, tentu saja itu akan menarik.

Lalu, bila kita tampil dengan audiens anak-anak tentu juga berbeda dalam menyikapi joke-joke yang dilontarkan. Yang terpenting, anak-anak tidak begitu tertarik pada humor verbal, mereka bisa tertawa pada humor slaptik. Seandainya kita melontarkan humor verbal tentu harus dibarengi dengan gestur dan ekspresi yang lucu juga.

Catatan lucu. Agar joke kita up to date ada beberapa cara yang selalu dilakukan oleh komedian kita. Yaitu: dengan mencatat semua kejadian lucu yang dialami atau dilihatnya. Catatan ini nantinya akan menjadi harta karun ketika harus melucu. Tentu saja pemakaian materi ini sesuai dengan kreativitas dari si komedian sendiri.

Perlu dipahami yang dicatat tidak melulu melulu lelucon verbal, tapi bisa juga lelucon slaptik yang sempat kita lihat. Jadi, seorang komedian sebaiknya memiliki buku catatan kecil yang selalu dibawa ke mana-mana untuk mencatat. Atau jika memungkinkan buku catatan bisa juga diganti dengan PDA.

Joke klise. Jangan sekali-kali menggunakan joke klise. Pasalnya, akibat yang akan dituai dari perbuatan ini bisa fatal. Kita, sebagai komedian akan diremehkan. Joke kita jadi tidak ada harganya atau merupakan joke sampah. Joke kita tidak memiliki daya-lucu. Pasalnya, semua orang sudah tahu joke-joke yang dilontarkan itu.

Kalau lontaran joke klise terjadi di panggung. Tentunya panen cemooh yang akan kita terima. Lebih parah lagi, kita mungkin akan diusir dengan timpukan sandal dan batu.

Humor lokal—yang hanya diketahui oleh kalangan terntentu sebaiknya dihindarkan. Pasalnya, kita melucu untuk dinikmati oleh semua kalangan. Karena diupayakan agar materi joke kita selalu up to date. Materi joke sesungguhnya bisa diperoleh di mana saja.

Namun, bila ternyata kita sangat terpaksa memainkan joke klise, ya, bisa saja. Asal kita memberi ksesegeran baru pada joke tersebut. Artinya, sebisa mungkin kita tidak menampilkan joke persis seperti aslinya. Misalnya saja.

Komunikatif. Gunakakanlah bahasa yang dimenergerti semua orang. Artinya, bila joke kita diujukan untuk orang se-Indonesia hendaknya gunakan bahasa Indonesia. Tidak perlu bahasa Indonesia baku, tapi bisa juga bahasa Indonesia gaul—biasanya sih bahasa Indonesia dialek Jakarta.

Menurut beberapa penelitian, bahasa Indonesia dialek Jakarta adalah bahasa yang banyak dipakai oleh orang di Indonesia. Pasalnya, bahasa Indonesia dialek Jakarta pula yang banyak digunakan oleh sinetron dan para presenter dan pengisi acara televisi.

Namun, komunikatif bukan hanya menggunakan bahasa yang dimengerti. Seorang komedian sejatinya adalah entertainer atawa penghibur harus bisa membawa audiensnya dunia jokenya. Sapalah audien kita, bisa juga kita ajak audien kita berjoke ria dengan kita.

Banyak membaca. Bacalah apa pun. Hal tersebut akan berguna ketika kita harus membikin joke. Selain itu, dengan membaca wawasan kita akan bertambah. Luasnya wawasan menjadikan kita kaya dengan berbagai pengetahuan. Yang lebih penting lagi, kita jadi tidak ketinggalan isu. Artinya, joke kita selalu terkini, tidak ketinggalan zaman.

Bila strategi bertempur kita sudah matang. Mari kita melangkah ke panggung dengan ringan. Joke-joke yang kita lontarkan akan panen tawa. Selamat mencoba.

Baca juga:

Strategi Pertempuran Merebut Tawa
Tagged on:                     

8 thoughts on “Strategi Pertempuran Merebut Tawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.