Penulis acap terbawa dengan komunikasi pencitraan negara maju. Banyak penulis yang dengan sukarela ikut mengampanyekan citra “indah”-nya negara maju.

Salah satu ciri abad ini adalah globalisasi. Globalisasi berkait dengan revolusi komunikasi dan revolusi informasi (John Naisbit, 1994). Revolusi Informasi sangat berpengaruh terhadap proses komunikasi politik, terutama komunikasi internasional. Yaitu munculnya dominasi negara maju terhadap negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Itu karena terjadi ketimpangan arus informasi internasional.

Arus komunikasi dan informasi dalam era globalisasi paling kurang didukung tiga hal penting. Yaitu: (1) paradigma freedom of information atau kebebasan; (2) kemajuan teknologi dan informasi, terutama teknologi informasi; (3) kemajuan dalam bidang ekonomi.

Terjadinya pola Utara-Selatan. Negara-negara Utara yang lebih maju karena keunggulan teknologinya mendominasi negara-negara Selatan yang masih berkembang. Yang tentu saja kurang maju dalam bidang komunikasi dan informasi global. Terjadi ketimpangan arus informasi. Delapan dari sepuluh berita yang beredar di negara berkembang (Selatan) tidak relevan dengan kepentingan negara. Pasalnya, sekitar 60%—70% berita itu bersumber dari kantor berita AP, UPI, Reuter, dan AFP.

Ketimpangan arus informasi tidak dapat dilepas dari Universal Declaration of Human Right yang disahkan PBB pada 1948. Kesepakatan internasional yang menjamin kebebasan informasi. Namun, sejatinya kebebasan informasi hanya menguntungkan negara maju. Ketimpangan informasi telah merusak sosial cultural dan sosial politik di berbagai Negara, terutama negara berkembang.

Komunikasi politik dikuasai oleh negara maju. Hal itu melahirkan pencitraan dan opini publik dunia bahwa negara maju merupakan dunia yang “indah” di benak masyarakat negara sedang berkembang. Sayangnya, kita sebagai penulis, acap menjadi penyambung lidah negara maju.

Banyak penulis yang melahirkan karya dengan mengambil latar negara maju. Banyak yang merasa bangga bisa mengunjungi negara maju. Padahal, sebaiknya penulis bisa lebih kritis melihat ada apa di balik kampanye negara maju nan indah. Salam.

Baca juga:

Sudahlah, Kita Jangan Ikut-ikutan Menulis
Tagged on:                 

4 thoughts on “Sudahlah, Kita Jangan Ikut-ikutan Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.