tidak tanggung jawab dipisah
Tanggung Jawab / Julie Rose (Pixabay)

Bila tiba-tiba ada dua sejoli yang memadu cinta, si perempuan tiba-tiba hamil tentu si pria harus bertanggung jawab. Setelah itu mereka bisa bersatu, tidak juga. Tanggung jawab atau tidak tanggung jawab mereka harus dipisah. Kok, gitu?

Iyalah, tanggung jawab memang harus dipisah penulisannya. Pasalnya banyak yang salah menuliskan, tanggung jawab disatukan menjadi tanggungjawab. Tanggung jawab itu terdiri dari dua kata tanggung dan jawab, bukan satu kata. Dia juga bukan kata majemuk idiomatis yang penulisannya disatukan seperti matahari atau saputangan.

Persoalan cara menulis tanggung jawab sudah terjadi sejak lama. Namun, persoalan ini selalu menarik untuk dibahas. itu karena selalu ada kesalahan dalam penulisannya. Tanggung jawab memang seharusnya dipisah, namun selalu saja ada yang salah dalam menulisnya. Meskipun begitu, tanggung ajwab memang tidak selamanya dipisah.

Kalau mau menyatukan dua sejoli, eh, tanggung jawab, bisa saja, berilah imbuhan. Tapi, bukan awalan alias prefiks, ya, melainkan konfliks—gabungan awalan dan akhiran yang dilekatkan secara bersamaan terhadap satu kata atau lebih. Jadi bentuk bertanggungjawab dan penanggungjawab bentuk yang salah, yang benar adalah bertanggung jawab dan penanggung jawab.

Nah, mereka bisa bersatu dengan konfliks pe-an menjadi pertanggungjawaban. Bisa tidak dengan konfliks ke-an? Bisa, menjadi ketanggungjawaban. Bentuk ini secara teori benar, namun bentuk ketanggungjawaban belum berterima untuk saat ini. Dengan perkembangan masyarakat bahasa, bisa saja bentuk ketanggungjawaban menjadi berterima. Kapan? Entahlah.

Tanggung jawab memiliki makna bersedia menanggung beban atau risiko. Ketika ada kekisruhan dalam demo, polisi pasti bertanya siapa yang bertanggung jawab. Bila ada yang berkata, ”Saya bertanggung jawab”, artinya orang itu bersedia memikul risiko yang timbul akibat demo yang kisruh. Tentu kita semua harusnya menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita tahu apa risiko yang akan menimpa kita bila berbuat tidak benar.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang begitu ngototnya menulis tanggungjawab padahal sudah tahu itu salah. ada beberapa alasan. Pertama, mengacu ke bahasa Inggris sebagai acuan. Karena tanggung jawab dalam bahasa Inggris terdiri dari satu kata , responsible, penulisannya dalam bahasa Indonesia juga harus satu kata: tanggungjawab. Kok, bisa begitu ya.

Kejadian ini mirip dengan kata orang tua. Karena dalam bahasa Inggris ditulis satu kata, parent, dalam bahasa Indonesia juga begitu: orangtua. Tentu saja ini tidak benar. Setiap bahasa itu punya aturan atau kaidahnya sendiri. Tidak bisa disama-samakan. itulah kebanyakan dari kita memang lebih memahami bahasa asing daripada bahasanya sendiri.

Alsan kedua mengapa mereka menulis tanggungjawab, mereka memang tidak tahu bagaimana cara menulis yang benar. Tentu saja ini harus diberi tahu. Namun, ini semua amat bergantung pada orang itu sendiri. Bila memang ingin berubah, tentu dia akan belajar untuk mengubahnya. Perubahan memang datang dari diri sendiri.

Bila dia menulis tanggung jawab mencontoh dari yang dia baca, tentu saja ini agak berat. Bacaan amat mempengaruhi cara menulis seseorang. Itulah makanya, selalu digaungkan agar media berbahasa dengan baik dan benar. Efeknya, ya, itu tadi, orang yang fanatik terhadap media tersebut akan mencontoh segala kesalahan penggunaan bahasanya. Celakanya, Dipisah atau disambungnya tanggung jawab diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi bahasa media yang melakukan kesalahan itu.

Sudah paham, ya, bagaimana seharusnya menulis tanggung jawab. Kalau kemudian kita melakukan kesalahan dengan menulis tanggungjawab, artinya kita siap menanggung risiko untuk disalahkan sebagai orang yang kurang menghargai bahasa Indonesia. jadi, tidak usah bingung lagi, tangg jawab dipisah atau disambung.

Penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia menunjukkan tingkat keccendekiaan si penulisnya. Selain, itu juga membukti rasa cinta kita terhadap bahasa Indonesia. Begitu ya, siapa lagi yang mau menghargai bahasa Indonesia kalau bukan kita. Salam.

Baca juga:

Tanggung Jawab atau Tidak, Tetap Dipisah
Tagged on:                         
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.