tugas kamu

Lagi, peserta menulis kreatif di kelas saya tertangkap meng-copy paste alias salin tempel dari punya orang lain. Saya hanya mengelus dada. Betapa, mereka tidak peduli dengan yang namanya kejujuran. Tapi, ini salah para guru dan dosen juga.

Banyak mahasiswa yang menganggap dosen itu pemalas. Mereka tidak akan membaca tugas mahasiswanya dengan detail. Itu dibuktikan dengan nilai tugas yang main pukul rata, artinya tugasnya tidak dibaca tapi hanya dilihat sudah mengumpulkan. Ya, apalagi tugasnya itu berhalaman-halaman. Tapi, itu tidak berlaku bagi saya. Karena yang saya ampu mata kuliah menulis. Saya membaca dengan detail sampai ke titik-koma. Itu agaknya tidak begitu disadari oleh peserta yang ikut di kelas saya.

Alhasil, kedua teman muda saya ini mengaku menyalin-tempel dari punya orang lain. Yang satu menyalin-tempel utuh, yang satunya menyalin tempel hanya separuh. Tapi, keduanya dipastikan tidak akan lulus. Bagi saya, kejujuran dalam amat penting. Mengambil karya orang lain dan mengakui sebagai tulisannya adalah perbuatan amat menjijikkan.

Seperti sebelum-sebelumnya, kedua teman muda saya ini juga memohon untuk bisa diluluskan. Mereka mengatakan bahwa mereka rajin masuk di kelas saya. Ya, saya akui. Tapi, rajin masuk tidak akan membuat mereka trampil atau mampu menulis dengan baik. Menulis adalah keterampilan, semakin sering berlatih semakin baik. Kalau mereka rajin berlatih, pasti juga tidak akan menyalin-tempel. Artinya mereka pasti lulus.

Bukan pekerjaan instan

Lagi pula bagaimana caranya saya mengonversi tingkat kehadiran mereka dengan skor agar bisa lulus. Logikanya untuk kelas yang saya ampu tidak nyambung. Tidak ada korelasi rajin datang dengan kemampuan menulis. Kalau rajin menulis, baru ada korelasinya. Kelas saya adalah workshop alias sanggar menulis kreatif. Tidak masuk akal bukan jika saya meloloskan peserta hanya karena rajin datang.

Sudah, saya meminta mereka untuk mengulang lagi semester depan. Mereka ngeyel, meminta saya meluluskan. Saya memberi tahu mereka, ketidakjujuran mereka sudah menghapus semua peluang untuk lulus. Setiap membuka kelas saya selalu menekankan agar jujur dan tidak membajak karya orang lain. Itu tampaknya tidak masuk dalam hati mereka.

Mereka tidak menyadari, menulis adalah proses, tidak bisa instan. Kalau ingin cepat selesai pekerjaan menulisnya, ya, salin-tempel saja. Itu artinya tidak menulis, dan tidak berhak untuk lulus. Mereka mestinya malu ketika melakukan salin-tempel.

Menulis bukanlah pekerjaan instan. Untuk menulis butuh persiapan. Bahkan ketika selesai menulis juga masih ada yang harus dikerjakan. Yaitu membaca ulang dan mengoreksi. Salam.

Baca juga:

Tugas Kamu Menulis, Bukan Menyalin Tempel
Tagged on:             

One thought on “Tugas Kamu Menulis, Bukan Menyalin Tempel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.