Seorang teman mengajak saya untuk memproduksi program komedi anak untuk televisi. Saya hanya tertawa. Bukan meremehkan, melainkan tidak yakin. Mengapa?

Membuat produksi bersama anak-anak itu berat, biar aku saja…walah malah kepincut dialognya Dilan. Memproduksi program dengan sebagian besar pemainnya anak-anak membutuhkan kerja ekstra. Saya ragu karena teman saya ini bukan tipe yang senang dengan anak-anak.

Saya jadi ingat. Dulu, sekitar tahun 2000-an, saya pernah membuat program teve bertajuk “Opera Anak” bersama teman-teman saya dalam tim kreatif Komunitas Kilik. .

Ketika itu saya dan teman-teman diminta menjadi kreatif dan penulis skrip untuk Opera Anak di Trans7. Saya dan teman-teman sudah membayangkan, akan banyak kesulitan yang akan dihadapi.

Pasalnya, kami harus menyuguhkan acara komedi anak. Kami harus membuat anak-anak itu lucu sepanjang acara. Kami sudah membayangkan, akan sangat sulit meminta anak-anak untuk mematuhi permintaan skrip. Tapi, kami sangat menyadari satu sifat dasar anak-anak, yaitu bermain.

Akhirnya, kami mengatur strategi agar bisa memenuhi permintaan skrip dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa atau terbebani. Akhirnya kami memutuskan untuk bermain bersama anak-anak ini sepanjang latihan blocking dan reading.

Kami bermain bersama anak-anak itu sepanjang latihan sebelum syuting. Kami perlu mengakrabkan diri dengan anak-anak, karena dengan begitu emosi kami akan menyatu. Sebab, menurut hasil diskusi kami, anak-anak cenderung menarik diri terhadap orang asing atau orang-orang yang tidak begitu dikenalnya. Jadi, kami tidak mungkin bisa meminta anak-anak melakonkan suatu peran atau meminta anak berakting sesuai dengan karakternya kalau tidak dekat secara emosional dengan anak-anak ini.

Tapi, satu persoalan lagi menghinggapi kami. Ternyata kemampuan anak-anak yang mendukung Opera Anak berbeda-beda. Ada yang sudah mahir memahami skrip, tapi ada yang tidak terlalu paham dan masih bingung bahkan cara membaca dialognya belum baik. Sudah begitu usianya tidak seragam. Ada yang masih belum sekolah, ada yang masih TK, ada yang SD, tapi juga ada yang SMP.

Untunglah masih ada yang bisa menjadi andalan dari kelompok anak-anak ini, sehingga dia bisa menjadi leader untuk merajut benang merah cerita. Selain itu, untuk anak-anak yang balita benar-benar, sekitar 3-4 tahun, kami menyiasati dengan memberi dialog pendek dan berulang-ulang dalam skrip. Misalnya, “Aku centeng, aku galak”. Dialog ini yang selalu diucapkan di setiap kemunculannya.

O, iya Opera Anak menggunakan skrip penuh, bukan treatment. Jadi, kelucuan yang timbul memang tertulis lengkap dengan dialognya, meskipun masih terbuka peluang improvisasi—seperti karena lupa skrip, bingung, atau kesal. Yang pasti, kami memang meng-creat semua anak-anak seperti sedang bermain, sehingga bila lupa atau kesal mereka masih bisa melanjutkan cerita.

Masih yakin ingin memproduksi program anak. Silakan, karena memang tidak ada yang tidak mungkin. Salam.

Baca juga:

Yakin, Ingin Membuat Program Komedi Anak
Tagged on:                         

3 thoughts on “Yakin, Ingin Membuat Program Komedi Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.