Orang asing tentu berbeda dengan orang lokal. Perlakuan kita terhadap orang asing pun berbeda. Begitu juga dengan imbuhan asing. Dia ada terkadang kita tidak mengenalnya dengan baik. Nah, karena asing terkadang kita menjadi ragu ini sebenarnya sebuah kata atau sekadar imbuhan.

Imbuhan asli bahasa Indonesia bisa kita sebut me-, di-, me-kan, me-i, pe-an. Imbuhan asing dari bentuknya terbagi menjadi imbuhan yang terdiri dari satu suku kata dan dua suku kata. Yang kerap membuat orang salah dalam menuliskan adalah imbuhan asing yang terdiri dari dua suku kata. Orang kerap menafsirkan sebagai sebuah kata. Padahal, sebagai imbuhan, imbuhan asing pun harus selalu ditulis melekat dengan kata yang diimbuhi. Misalnya:

Imbuhan satu suku kata:

  • pra- prakiraan
  • pro- prodemokrasi
  • sub- subjudul
  • -wan industriwan
  • -man budiman
  • -wi ragawi

Imbuhan dua suku kata:

  • anti- antikorupsi
  • manca- mancanegara
  • pramu- pramusaji
  • antar- antarkota
  • pasca- pascapanen
  • infra- inframerah

Ternyata di media massa kita kerap muncul bentuk manca negara, pasca sarjana bahkan paska sarjana, antar departemen, pro reformasi atau malah bentuk yang dilebih-lebihkan seperti industriawan. Jelaslah bentuk-bentuk itu tidak benar adanya.

Sebagai imbuhan manca-, pasca-, antar-, pro- seharusnya ditulis bergabung dengan kata yang diimbuhinya. Dengan begitu bentuk yang benar adalah bentuk mancanegara, pascasarjana, antardepartemen, proreformasi. Adapun paska sarjana adalah bentuk yang salah kaprah.

Mungkin orang mengira, pasca– adalah salah tulis dari bentuk asing, Karena, umumnya huruf /c/ dalam kata asing diindonesiakan menjadi /k/, seperti decade menjadi dekade, corona menjadi korona, computer menjadi komputer. Bukankah itu terlalu berlebihan.

Di samping itu media kita pun kerap beranalogi dengan bentuk yang sudah ada. Karena ada bentuk alami, madani, insani, muncullah bentuk gerejani. Sebenarnya ini analogi yang salah kaprah, semestinya yang benar adalah gerejawi sebagai kata sifat dari gereja yang sebanding dengan duniawi dan surgawi.

Begitulah, sebagai penulis kita harus mengenali bahasa yang kita gunakan. Jangan sampai, menjadi orang yang setiap hari bergulat dengan bahasa, namun tidak becus menggunakannya. Salam.

Baca juga:

Yang Asing, ya, Tetap Harus Melekat
Tagged on:                     

6 thoughts on “Yang Asing, ya, Tetap Harus Melekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.