Orang asing ikut ngomong bahasa Indonesia, tentu saja boleh. Apalagi yang ikut nimbrung itu anak-anak gaul dengan bahasa gaul atau slangnya, juga orang-orang katro yang dari daerah, pasti boleh banget.

Itu kan kalau ngomong. Kalau dalam kalimat, boleh tidak memakai kata asing. Boleh. Orang asing saja boleh masuk, masak kata asing tidak boleh. Namun, seperti orang bule, tentu ada syaratnya agar bisa masuk ke Indonesia. Kata asing pun ada syaratnya untuk digunakan dalam bahasa Indonesia.

Syaratnya ringan, kata itu tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bila terpaksa menggunakan kata asing, kata tersebut harus dicetak miring atawa kursif. Itu kan kata asing, bagaimana dengan bahasa daerah dan bahasa gaul alias slang dalam kalimat. Itu juga tidak apa-apa. Hanya syaratnya sama, yaitu dikursif.

Kata asing, daerah, dan slang adalah realitas yang ada. Ketika kita berbicara, masih banyak tersangkut bahasa asing, daerah, atau slang. Dalam menulis juga begitu, terutama di media massa. Ketiga sekawan ini bisa memberi nuansa yang berbeda terhadap suatu suasana yang dibangun dalam kalimat. Selain itu, kata-kata ini juga berfungsi mendekatkan emosi pembaca dengan teks yang kita tulis. Misalnya:

  • Mereka adalah profesional yang sangat memahami tetek bengek pasar modal.
  • Semua orang terhenyak atas manuver politiknya yang rancak.
  • Sekarang kita tinggal menunggu niat baik untuk membuat Indonesia kinclong kembali.
  • Banyaknya pasien korona yang sembuh, untuk sementara membikin happy yang mendengar.

Bandingkan cita rasanya bila kata yang dicetak miring itu diganti dengan kata yang lebih formal atau umum. Misalnya:

  • Mereka adalah profesional yang sangat memahami seluk-beluk pasar modal.
  • Semua orang terhenyak atas manuver politiknya yang bagus.
  • Sekarang kita tinggal menunggu niat baik untuk membuat Indonesia seperti semula kembali.
  • Banyaknya pasien korona yang sembuh, untuk sementara membikin gembira yang mendengar.

Namun, ada persoalan dengan penggunaan kata asing oleh penulis di media massa. Entah untuk gagah-gagahan atau memang tidak tahu, mereka itu masih lebih senang menggunakan kata asing ketimbang padanannya dalam bahasa Indonesia. Untuk ambil alih, tenggat, titik impas mereka lebih senang menggunakan kata take over, dead line, break even point.

Hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari. Pasalnya, itu hanya menunjukkan betapa kita kurang terampil dalam berbahasa Indonesia dan betapa sempitnya wawasan kebahasaan kita. Padahal, katanya penulis berkarib dengan bahasa. Salam.

Baca juga:

Yang Bule, Gaul, dan Kampungan, Boleh Ikut Nimbrung
Tagged on:                                     

7 thoughts on “Yang Bule, Gaul, dan Kampungan, Boleh Ikut Nimbrung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.