Sidney Sheldon / Flickr

Sidney Sheldon memulai karier menulisnya sebagai penulis skrip/skenario untuk televisi. Setelah menulis ratusan skrip televisi dan puluhan skenario film, barulah dia melangkah menjadi penulis novel. Bukan penulis novel ecek-ecek, tapi namanya telah masuk dalam Guinness Book of Records sebagai “Penulis yang Paling Banyak Diterjemahkan di Dunia”.

Nah, tidak salah dong kalau kita bertanya ke penulis piawai ini, apa perbedaan antara menulis novel dan serial televisi atau film? “Dalam naskah film kita tidak bisa menggambarkan karakter pria secara terperinci,” ujar penulis Naked Face itu. Jika itu dilakukan, misalnya kita menulis bahwa dia tinggi, kurus, dan pendek, Clint Eastwood akan menolak dan memberikan naskah itu ke Dustin Hoffman. Itu bisa menjadi masalah besar. “Jadi, gambarkan hanya sebagai pria yang tampan atau tua atau apa pun. Begitu dengan kamar, tidak perlu digambarkan secara detail. Di Hollywood ada dekorator set terbaik.

Keuntungan menulis film, studio mampu memberi kita bintang dan sutradara terbesar yang tersedia, dan anggarannya sangat besar. Kerugiannya adalah dibutuhkan film sekitar dua tahun untuk mencapai layar, dan setelah beberapa minggu menghilang. Beberapa tahun kemudian, kadang-kadang dapat dilihat di televisi berbayar.

“Saya lebih suka menulis novel. Ketika Anda menulis novel, tidak ada aktor yang mengatakan, “Ubah kalimat itu. Saya tidak bisa membacanya seperti itu” atau seorang sutradara mengatakan, “Ini terlalu mahal. Buat beberapa adegan.” Tidak ada orang yang menebak Anda,” ungkap Sidney Sheldon.

Seorang novelis, masih menurut Sheldon, menciptakan seluruh pemeran dan suasana hati dengan kata-kata. Karakter dapat memiliki vila dan kapal pesiar, dan pasukan dapat dikerahkan tanpa biaya. “Seorang novelis hanya dibatasi oleh imajinasinya. Menulis novel adalah pengalaman memabukkan, karena seorang novelis menciptakan dunia dan memainkan Tuhan.”

Satu hal lagi, Sidney Sheldon tidak akan menulis yang tidak dia ketahui. Misalnya, untuk novelnya Windmills of the Mind yang merupakan kisah tentang CIA, ia secara pribadi bertemu dengan Richard Helms yang merupakan mantan anggota CIA. Dia juga pergi ke Argentina dan Rumania, dan menghabiskan beberapa waktu di ‘Junction City, Kansas’ di mana salah satu karakter utama buku itu berada.

“Jika saya menulis tentang suatu tempat, saya telah berada di sana. Jika saya menulis tentang makanan di Indonesia, saya sudah makan di sana di restoran itu. Saya tidak berpikir Anda bisa menipu pembaca,” ujarnya di famousauthors. Jika dia menulis mengenai suatu persoalan, Sidney Sheldon akan menelitinya. “Saya pergi ke para ahli, dan saya meneliti semua yang saya tulis. Saya melakukannya beberapa kali,” ujarnya dalam wawancara dengan CNN.

Untuk menulis, Sidney mempunyai “ritual” khusus. “Ya, saya menulis dengan cara yang agak tidak biasa. Saya mendikte seorang sekretaris. Ketika saya memulai sebuah buku, saya tidak punya plot, hanya karakter. Ketika saya mulai berbicara, karakter menjadi hidup dan karakter lain masuk dan mereka mulai mengambil alih. Mereka benar-benar menulis buku untuk saya, dan itu mengasyikkan,” ujarnya dalam sebuah wawancara di tahun 1987.

Kalau diperhatikan, novel yang ditulis Sheldon sangat visual. Bisa jadi itu pengaruh karena dia lama berkecimpung di film dan teve. “Ketika saya sedang menulis televisi atau film atau teater, semuanya visual. Jadi saya dilatih untuk berpikir seperti itu. Itu sangat membantu saya dalam menulis novel,” kata Sheldon.

Sidney Shledon acap menampilkan wanita sebagai karakter utama dalam novelnya. Sosok wanita yang ditampilkan adalah tipe independen yang kuat yang dapat melakukan sendiri semuanya. Itu tidak realistis. Mengapa seperti itu? “Saya bosan dengan klise dari si pirang bodoh. Saya tahu wanita yang mampu melakukan apa yang mereka lakukan sama seperti pria mana pun, dan saya pikir wanita lebih sensitif daripada pria. Saya suka menulis tentang wanita,” ungkap Sheldon.

Akhirnya Sidney Sheldon memberi kata penutup yang semoga bisa menjadi pegangan para penulis muda. Penulis yang hampir semua novelnya difilmkan itu pernah berkata, “Jangan dengarkan orang-orang yang mencoba untuk mengecilkan hatimu. Tidak ada yang bisa menghentikanmu kecuali dirimu sendiri.” Salam.

Baca juga:

Yang Dilakukan Sidney Sheldon ketika Menulis
Tagged on:                     

6 thoughts on “Yang Dilakukan Sidney Sheldon ketika Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.